PERSPEKTIF MEMAHAMI LOBI


8eb4035acd362f34

Perspektif Politik

Pengertian yang paling mendasar dari lobbying berasal dari kata lobby yang mempunyai dua pengertian yang berarti ruang tunggu di gedung dan umum, dan kelompok yang mencari muka untuk mempengaruhi anggota parlemen. Pengertian yang kedua tersebut dapat dikatakan sebagai salah satu kegiatan yang termasuk dalam sudut pandang (perspektif) politik. Kini lobi politik sudah berkembang sedemikian rupa, tidak hanya menyangkut soal mempengaruhi pembentukan namun sudah sangat meluas. Secara ringkas dalam perspektif politik tujuan lobi adalah mencoba meraih dukungan atas tujuan dan kepentingan yang dimiliki baik pribadi, kelompok, maupun organisasi, berebut pengaruh untuk mendapatkan dukungan mayoritas, menjajaki kemungkinan-kemungkinan solusi atas perbeddaan yang muncul sehingga memungkinkan terjadinya akomodasi, transaksional, dan permakluman, menyamakan persepsi atas perbedaan pandangan yang mengemuka dengan beradu argumentasi, mencoba melakukan tawar menawar menuju pada proses negosiasi dengan tukar menukar kepentingan, tukar menukar kelebihan dan kekurangan dan sejenisnya.

Kendala-Kendala Melobi Pejabat

  • Setelah mendapat mandate dari rakyat, pemegang kekuasaan pemerintahan baik legislatif maupun eksekutif acapkali cara berpikirnya berubah
  • Para pejabat publik berada dalam situasi seperti seorang pedagang, yang pasti akan memperhitungkan keuntungan dan kerugiannya
  • Pejabat publik keberadaannya tak lepas dari latar belakang kelompok atau partainya
  • Para pejabat dalam mengambil keputusan kerap kali tidak didasarkan pertimbangan sendiri melainkan sering meminda nasihat dari orang disekitarnya
  • Para pejabat publik seringkali dalam pekerjaannya terikat oleh aturan protokoler dan birokrasi yang seringkali rumit yang berakibat terbuangnya waktu
  • Para pejabat publik disamping terikat oleh kegiatan protokoler dan seremonial juga sebaliknya pasti ada kejenuhan atas rutinitas tersebut, sehingga juga membutuhkan ruang publik yang lebih bernuansa non-formal

Perspektif Budaya

Dalam perspektif budaya kegiatan lobi berhubungan degan banyak persoalan yang menyangkut factor penentu terbentuknya saling pengertian. Sukses tidaknya tujuan lobi sangat tergantung pada persepsi yang dibentuk oleh komunikan. Factor budaya yang mempengaruhi persepsi tersebut adalah :

  • Kepercayaan, nilai, dan sikap
  • Pandangan dunia
  • Organisasi sosial
  • Tabiat manusia
  • Orientasi kegiatan
  • Persepsi tentang diri dan orang lain
  • Eksplisit dan Implisit

Konsep ini penting ditelaah manakala pelaku lobi yag terlibat menyangkut pola ungkap dan gaya ekspresi. Donald W. Klopf dari West Virginia University, membagi perilaku cultural menjadi dua kategori besar yang yang dinamakan explicit behaviors dan implicit behaviors. Yang satu memperlihatkan koherensi antara feeling dan reacting, lainnya menunjukkan kebertolakbelakangan.

Model Dua Interaksi

Komunikasi yang bersifat interaktif adalah model komunikasi yang akurat. Yaitu komunikator dan komunikan mendefinisikan perilaku yang tepat serta menyepakati apa yang diharapkan oleh dua pihak. Ada empat tipe interaksi yang dihasilkan antara harapan dan perilakunya :

  • Kesepakatan tinggi, ketepatan tinggi
  • Kesepakatan tinggi, ketepatan rendah
  • Kesepakatan rendah, ketepatan tinggi
  • Kesepakatan rendah, ketepatan rendah

Perspektif Bermedia

Lobbying sering kali dilancarkan ketika simpul-simpul pertemuan belum tersedia. Para petugas yang bekerja di bidang kehumasan umumnya tidak cukup hanya menggunakan satu cara saja. Untuk memperoleh hasil optimal dari kegiatan publik relations diperlukan program yang memungkinkan terjadinya komunikasi tatap muka dengan masyarakat lingkungannya. Program tatap muka dapat diadakan dengan memanfaatkan alat bantu seperti :

  • Penyelenggaraan pertunjukan kesenian
  • Pameran
  • Ceramah
  • Pengaturan penyelenggaraan open house kepada masyakat

Dalam kegiatan lobbying apa yang disebut alat tersebut dapat disebut sebagai media lobbying. Pengertian media dalam lobbying tidak sebatas media cetak, elektronik, maupun maya. Media merupakan sarana untuk mengantarkan terjadinya komunikasi antar pribadi. Dalam lobi lebih mempunyai intensitas kedalaman, dan menyentuh aspek feeling. Masyarakat kita masih memandang pertemuan langsung sebagai sesuatu yang afdol dalam menjalin suatu hubungan. Hal tersebut didukung oleh feeling budaya dan agama.

Perspektif Bisnis

Ngobrol merupakan bentuk komunikasi yang sangat cair sehingga dapat mencakup materi yang sangat luas, tergantung dari kemauan pihak mengembangkannya. Inilah wilayah lobbying yang memiliki banyak potensi menuju penyamaan persepsi. Tanpa terasa masing-masing akan msuk ke wilayah kebutuhan dan di sanalah pejejkan suatu transaksi dimulai. Melalui ngobrol, lobbying memasuki kegiatan saling mempengaruhi. Kalau pada zaman dahulu terciptanya pasar ataws dasar bertemunya produsen dan konsumen mentransaksikan kebutuhan dengan ketersediaan, maka sekarang pasar tidak lagi dikendalikan oleh kebutuhan, justru lebih dominan dikendalikan oleh keinginan. Berkembangnya teknologi informasi menyebabkan interaksi antar manusia menjadi masif, percepatan transformasi informasi luarbiasa kelipatannya, dan yang paling unik media masa khususnya melalui kegiatan periklanan mampu menggiring keinginan manusia yang bersifat artificial. Era reformasi semakin menambah rumit proses penjualan. Kemajuan teknologi telekomunikasi berdampak pada semakin intensnya pengaruh iklan pada keputusan penjualan dan pembelian. Meskipun pendekatan marketing mix yang biasa dikena dengan istilah 4p (product, price, promotion, dan place) menjadi sedemikian maju akibat dari tuntutan kompleksitas pasar, menjalin kerjasama bisnis merupakan hal penting. Paradoksnya ketika menjalin kerja sama tentu ada kegiatan lobbying dengan tujuan jangan sampai ketahuan hanya menjual produk semata. Lobi adalah jembatan yang fleksible menghubungkan tercapainya tujuan manusia. Melalui lobi tulah kegiatan komunikasi dilancarkan. Pada akhirnya lobi melingkupi aneka bidang yang paling umum terjadi dalam dunia usaha.

Perspektif Berkomunikasi

Dalam perspektif ini lobbying merupakan kegiatan komunikasi di mana di antara komunikator dan komunikan saling mengirim pesan dan menerima pesan. Banyak buku how to yang berisi tentang bagaimana teknik berkomunikasi yang baik. Konsep tersbut cocok diterapkan dalam kegiatan lobi, karena esensi lobi adalah bagaimana memengaruhi orang lain sampai orang lain tidak menyadari kalau dipengaruhi. Strategi memengaruhi orang lain tersbut dibagi menjadi 9 :

  • Rational persuasion
  • Inspirations appeals tactics
  • Consultations tactics
  • Ingratiation tactics
  • Personal appeals tactics
  • Exchange tactics
  • Coalition tactics
  • Pressure tactics
  • Legitimizing tactics

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: