MENGAMBIL HATI SISWA


guru

Semua bentuk interaksi guru dengan siswa haruslah dilandasi dengan kasih sayang dan kelembutan. Seandainya guru selalu gagal mengatasi kenakalan siswa, padahal telah menggunakan bebagai metode pendekatan, bisa jadi disebabkan ia belum optimal dalam bersikap lemah lembut. Guru adalah orang yang sedang diberi amanat untuk mengatur urusan anak-anak. Dan, anak-anak itu adalah umat rasulullah. Artinya, jika guru bersikap lembut terhadap anak, dia akan termasuk golongan orang yang didoakan oleh Rasulullah. Tidak ada yang perlu dipertentangkan antara kelambutan dengan kewibawaan. Ada sebagian orang yang menganggap jika seorang guru terlalu lembut dan terlalu dekat dengan anak, wibawanya akan hilang. Yang terjadi justru sebaliknya, kehangatan, kelembutan, dan kedekatan akan semakin menambah wibawa para guru yang melandasi hubungan dengan para siswanya.

Sikap tidak banyak bicara dan memilih diam dalam bereaksi terhadap persoalan akan menambah kewibawaan seorang guru. Setiap perkataan yang dikeluarkan oleh guru tersebut seolah-olah sesuatu yang telah dipkirkan secara matang, sehingga siswa menganggap kata-katanya sangat berharga. Dalam kondisi tertentu, seorang guru harus mempu menahan diri agar tidak banyak bicara. Sikap seperti ini akan lebih baik daripada mengumbar banyak ide dan saran di saat kondisi masih keruh. Diam adalah elemen penting dalam melahirkan sikap dan pembawaan yang tenang. Dan, ketenangan dalam bersikap akan melahirkan kewibawaan.

Guru harus konsisten ketika menegakkan peraturan. Guru yang konsisten biasanya mempunyai wibawa yang cukup besar di mata siswa-siswanya. Para siswa akan segera menangkap apa yang boleh dilakukan dan apa yang dilarang oleh gurunya. Sebaliknya, inkonsistensi sangat merugikan guru. Guru yang tidak konsisten selalu mengeluarkan energi yang tidak sedikit untuk mengkondisikan siswanya.

Untuk menjaga konsistensi, seorang guru dituntut untuk berhati-hati ketika menyampaikan sanksi atau hukuman bagi pelanggar peraturan. Janganlah sesekali mengeluarkan ancaman berupa danksi yang tidak mungkin dilaksanakan. Hindari juga mengamcam pelanggar peraturan dengan sanksi yang sulit dilaksanakan.

Seorang guru pasti berinteraksi dengan para siswa. Bukan hanya dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. Bermain dan beraktivitas bersama para siswa bisa menjadi sarana yang bagus untuk membangun kedekatan. Secara ilmiah, jika anak masih kecil, sentuhan fisik akan menambah kedekatan dengan mereka. Akan tetapi, ketika anak sudah besar, sentuhan fisik tidak diperbolehkan lagi dilakukan karena terkendala oleh hukum muhrim. Jadi, berinteraksi dengan siswa bisa berupa interaksi fisik atau interaksi sosial. Dalam berinteraksi dengan siswa, guru pun dituntut untuk berhati-hati. Guru hasrus mengghindari model-model interaksi yang menyakitkan hati para siswa. Jangan sampai seorang guru yang jarang bergaul dengan siswa sebagai sahabat, sekali bertegur sapa menggunakan kata-kata yang dingin dan merendahkan. Guru jangan sampai memberi gelar anak didiknya dengan gelar yang buruk atau memplesetkan namanya sehingga menjadi guyonan bagi anak lain. Tindakan seperti itu akan menyakitkan anak yang dijadikan objek pembullyan.

Berada dalam situasi di luar kontrol sering dialami oleh para guru. Kondisi ini harus kita sadari sepenuhnya karena guru bukanlah malaikat yang tidak memiliki emosi. Guru sering melanggar sendiri peraturan atau nilai yang telah diucapkan ketika emosinya sedang tinggi. Jika guru sudah terlanjur marah, langkah yang paling baik adalah segera menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada siswa yang dimarahinya. Meminta maaf kepada siswa bukanlah hal yang tabu bagi guru. Guru harus konsekuen dengan apa yang dikatakannya dan menerima konsekuensi apa pun sebagai akibat dari apa yang disampaikannya itu. Kalau guru mengajarkan untuk tidak marah, ajarannya bukan untuk para siswa saja, tetapi juga untuk dirinya sendiri. Guru tidak bisa bebas dari nilai yang diajarkan kepada siswa itu. Apa yang dianjurkan oleh guru kepada siswa adalah anjuran yang berlaku pula untuk guru itu sendiri.

Pembangunan wibawa menuntut guru untuk berinteraksi secara dekat dengan para siswa, baik interaksi fisik maupun psikis. Guru yang sempurna di mata siswa akan diidolakan dan diikuti perilaku dan ucapannya. Kesempurnaan guru di sini bukanlah kesempurnaan dalam arti siswa, dalam pandangan mereka, tidak menemukan sesuatu yang menjatuhkan harga diri guru. Sah saja jika ada sekolah yang menetapkan standar penampilan fisik bagi para gurunya. Dampak positif lain yang lahir dari pengondisian semacam itu adalah kultur yang terbangun di sekolah. Jaadi, baguskanlah tampilan fisik kita dengan tetap mengedepankan aspek kesederhanaan.

Bagi guru SMP, SMA, atau dosen di perguruan tinggi, kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik merupakan sebuah tuntutan yang mutlak. Ini dikarenakan persoalan yang dihadapi anak didiknya lebih kompleks dan bervariasi. Guru yang tergesa-gesa dalam memberikan tanggapan terhadap suatu persoalan, mengindikasikan bahwa ia tidak punya kemampuan untuk mendengar dengan baik dan mengambil kesimpulan. Ketergesaan seperti itu sebenarnya berawal dari kebisaan memandang remeh orang lain sehingga menganggap persoalan yang disampaikan pun enteng belaka. Menjadi pendengan yang baik ini bukan saja dilakukan ketika ada siswa yang mengadukan persoalan atau curhat, tetapi juga diperlukan ketika guru memberikan penilaian terhadap siswa. Guru tidak boleh ceroboh dalam memberi komen tar dan tanggapan karena hal itu justru menurunkan wibawanya di mata para siswa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: