HAKIKAT ILMU ADMINISTRASI


presentasi-hakikat-administrasi-1-638

Hakikat ilmu

Pengetahuan pada hakikatnya lepas dari ingatan manusia karena memang pengetahuan berada pada ruang bebas, tetapi manusia mempunyai potensi kesadaran untuk berusaha memiliki pengetahuan. Kaitan antara kemampuan untuk mengetahui sesuatu (knower) dengan kemampuan menalar atau berfikir (knowing) sesuatu berupa kognitif adalah kemampuan menalar atau berpikir terhadap sesuatu aksi dan reaksi, afektif adalah kemampuan untuk meraasakan apa yang telah diketahui, dan konatif adalah kemampuan untuk mencapai apa yang dirasakan. Apabila keterkaitan ini menciptakan suatu keeratan keutuhan yang bukat, maka lahirlah pengetahuan (knowledge) terhadap sesuatu itu. Ilmu adalah sekumpulan pengetahuan manusia yang rasional dan kognitif, dengan disusun secara sistematis dan menggunakan metode tertentu yang dapat dipelajari sehingga memberikan manfaat, baik di bidang wawasan berpikir maupun di bidang pekerjaan. Pandangan ilmu pengetahuan dapat melihat ikatan-ikatan berjanakauan yang lebih jauh, disamping kurang mendesak dan lebih rapuh dalam ikatan sehingga cepat mengalami perubahan. Tantangan dan persaingan dalam rangka kepemilikan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimenangkan oleh setiap manusia jika manusia memiliki salah satu variable penentunya, antara lain seberapa besar ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersemayam dalam pangkal piker manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hasil penalaran manusia untuk menemukan kebenaran, sehingga dapat menentukan warna dan derajat dalam pergaulan komunitas masyarakat manusia. Tetapi penalaran dapat terjadi melalui proses tindakan berfikir berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia bersangkutan. Kesuksesan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh manusia melalui suatu proses ilmiah, dengan p\mengadaptasikannya sesuai dengan kondisi alami yang sedang berproses itu. Realita alamiah dari setiap disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi tidak selamanya selalu sama, tetapi juga tidak selamanya berbeda tergantung pada posisi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dan manusia.

Hakikat ilmu administrasi

Ilmu administrasi meruapak hasil pemikiran dan penalaran manusia yang disusun berdasarkan dengan rasionalitas dan sistematika yang mengungkapkan kejelasan tentang objek forma, yaitu pemikiran untuk menciptakan suatu keteraturan dari berbagai aksi dan reaksi yang dilakoni oleh manusia dan objek material, yaitu manusia yang melakukan aktivitas administrasi dalam bentuk kerjasama menuju terwujudnya tujuan tertentu. Esensi mendasar objek formal dan material administrasi adalah terciptanya hubungan antara pengatur dan yang diatur dalam konteks kerja sama manusia. Pengembangan pemikiran dan penalaran manusia yang berdasarkan kaidah dan norma-norma administrasi tidak hanya dipandang sebagai ilmu pengetahuan, tetapi merupakan bagian kehidupan manusia yang menuntut terciptanya spesialisasi menuju kemahiran terhadap suatu keterampilan dari berbagai bidang kegiatan dalam memenuhi kehidupan manusia. Oleh karena itu, administrasi dapat dilihat dari dua sudut pandang yang salig melengkapi antara satu dan lain, sebagai berikut :

Administrasi sebagai ilmu

Ilmu sebagai objek kajian administrasi sepatutnya mengikuti alur pemikiran manusia, yang pendekatannya dilakukan secara radikal, menyeluruh, rasional, dan objektif. Begitu juga dari segi pendekatan spekulatif-spekulatif tertentu bahwa administrasi sebagai ilmu berada pada posisi yang tidak mutlak dan pada tataran kebenaran empirical, di mana terdapat ruang untuk berspekulatif dalam pengembangan ilmu administrasi itu sendiri. Berpikir dengan nilai normative ilmu administrasi merupakan suatu kajian yang mendalam di alam nalar manusia yang dapat menembus cakrawala dunia, ditandai dengan gerak langkah rasionalitas di bidang filsafat ilmu administrasi sebagai berikut :

Ontologism, nilai dasar pemikiran manusia yang menggambarkan tentang kebenaran dasar (apriori), berakar dari pangkal piker yang dikandung oleh ilmu administrasi itu sendiri.

Epistemologis, perkembangan ilmu administrasi dalam pemikiran manusia terhadap rasionalitas melahirkan pandangan yang bercakrawala dan tidak dapat dijangkau sampai batas akhirnya.

Aksiologism ilmu administrasi akan membarikan makna yang hakiki apabila dapat dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, sehingga member kemudahan dan kelayakan berpikir serta bertindak bagi manusia yang mandalami ilmu administrasi.

Pendalaman ilmu administrasi sebagai suatu kajian teori yang dapat memberikan makna dan manfaat dalam kecerdasan kehiduapan manusia, maka ketangguhan ilmu administrasi dapat terwujud apabila di dalamnya tersaji berbagai penggolongan teori.

  • Grand theory
  • Middle range theory
  • Reinforcement theory
  • Grounded theory

Administrasi sebagai pekerjaan

Seseorang ketika berpikir untuk menghayati dan berusaha mengerti terhadap sesuatu permasalahan administrasi, maka orang bersangkutan berpikir tentang rangkaian teori dalam pengembangan ilmu administrasi. Tetapi ketika seorang berpikir untuk melaksanakan sesuatu kegiatan yang ada kaitannya dengan administrasi, maka orang itu berpikir dan melaksanakan profesi atau pekerjaan administrasi. Proses administrasi dimaknai sebagai pola pemikiran dan rangkaian kegiatan untuk pencapaian suatu hasil tertentu dengan professional sesuai tuntutan kegiatan yang harus dilakukan, sehingga hasil yang diinginkan terwujud. Administrasi berfungsi untuk menemukan pembagian kerja dalam bermacam-macam karakteristik manusia yang berbeda antara satu dengan lainnya. Kemampuan seorang administrator adalm menentukan tujuan lazimnya mempertahankan bentuk moralitas administrasi berdasarkan rasionalitas pembagian kerja dalam suatu organisasi, walaupun kadang tidak terhindarkan pembagian kerja yang dipaksakan karena dipengaruhi oleh berbagai variable yang subjektif terhadap administrator yang bersangkutan. Manusia bekerja sebagai profesi didorong oleh dua jenis motif. Pertama, motif yang mengutamakan hasil yang dicapai dengan mengabaikan nilai-nilai moralitas walaupun dalam mencapai hasil itu senantiasa mengatasnamakan ajaran moral, ajaran agama, dan ajaran etika, tetapi setelah mencapai hasil yang diinginkan ajaran agama, moral, dan etika ditinggalkan. Motif kedua mengutamakan ajaran moralitas, agama, dan etika secara konsisten serta senantiasa berusaha menghindari biusan jabatan, rupiah, harta, dan semacamnya. Pekerjaan administrasi dapat diselesaikan secara efektif apabila seluruh pekerja secara berjenjang dapat memahami struktur pekerjaan masing-masing dalam suatu organisasi. Setiap posisi pekerja dalam suatu organisasi selalu membutuhkan tehnik dan metode antara posisi pekerjaan yang satu dengan posisi pekerjaan yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: