DAMPAK MODERNISASI TERHADAP BANGUNAN BERSEJARAH LAWANG SEWU


BAB III

DATA DAN PEMBAHASAN

 

Data

Hasil tanya jawab dengan salah satu tour guide di Lawang Sewu Semarang

Isu Alih Fungsi Lawang Sewu

Dalam berita akhir-akhir ini terdengar kabar bahwa Lawang Sewu akan dijadikan hotel. Alih fungsi Lawang Sewu menjadi hotel heritage atau warisan budaya ini harus dipandang sebagai gagasan yang positif. Hal itu selaras dengan pengertian konservasi (pelestarian), yaitu suatu proses pemeliharaan untuk mempertahankan makna budaya yang dikandungnya melalui perawatan dan preservasi, restorasi, rekonstruksi, dan adaptasi.

Kita semua pasti yakin bahwa bangunan Lawang Sewu tidak akan dibongkar, tetapi yang namanya alih fungsi, apalagi dari bangunan bekas kantor menjadi hotel, pasti akan terjadi penambahan dan pengurangan serta pengaturan di sana-sini. Dalam pengertian yang terdapat pada Pasal 1 ayat (2) UUCB, tapak atau lokasi seluruh bangunan gedung Lawang Sewu merupakan situs yang tidak boleh dirusak. Pasal 1 ayat (2) menyebutkan, situs ialah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya, termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya.

Ada kriteria yang harus dipenuhi untuk mewujudkan gagasan baru di lokasi bersejarah, yaitu integritas arsitektural. Integritas di sini adalah kejelasan makna dan nilai dari bangunan dan tapak secara keseluruhan. Ada beberapa atribut yang dapat menciptakan integritas arsitektural, yaitu bentuk atau langgam, kekriyaan, bahan, tipe dan fungsi bangunan, lokasi, serta kesinambungan.

Dari sekian atribut itu, paling-paling hanya beberapa yang masih dapat dipertahankan, mengingat alih fungsi yang sangat kontras, yaitu dari kantor menjadi hotel. Kemungkinan besar yang masih bisa dipertahankan adalah integritas langgam, kekriyaan, dan lokasi. Perencana dan pelaksana pembangunan harus benar-benar paham akan hal tersebut. Integritas lokasi menjadi sangat dominan karena menyangkut masalah lingkungan sekitar bangunan atau yang lebih dikenal sebagai setting.

Munculnya bangunan baru harus menyesuaikan setting yang sudah terbentuk, jangan sampai unsur baru atau tambahan bangunan baru justru merusak setting yang sudah ada. Perlu pengaturan semacam penempatan posisi latar depan dan latar belakang dalam sebuah setting, unsur-unsur baru ditarik menjadi latar belakang agar tidak merusak facade yang sudah memiliki nilai sejarah sangat tinggi dan pengaturan mintakat situs yang jelas mengingat lokasi sekitar Lawang Sewu sudah berkembang pesat.

 

Penyelenggaraan Beberapa Event Untuk Memperkenalkan Lawang Sewu

Salah satu jalan untuk mengenalkan lagi Lawang Sewu di mata masyarakat Indonesia, di Kota Semarang khususnya, diselenggarakanlah beberapa event yang berbudaya, seperti pegelaran seni. Pergelaran seni akan menampilkan Pertunjukan Seni Musik Pelajar, Festival Dolanan Anak  dan Pergelaran Seni Tradisional dari berbagai kab/kota di Jawa Tengah. Sedangkan Atraksi Budaya akan diisi dengan kegiatan yang menarik partisipasi masyarakat seperti pembuatan wayang kertas dan wayang kulit, pembuatan permainan tradisional anak, pembuatan angklung, atraksi egrang bergoyang,  atraksi gathilan, dan atraksi gasing.

Sementara lomba yang diadakan yaitu Lomba Permainan Tradisional Anak di halaman Gedung Lawang Sewu dengan peserta anak-anak dari berbagai kota di sekitar Semarang, Lomba Memasak, dan Lomba Kriya Anak-Anak.

 

Berita Di Internet

PT Kereta Api Indonesia (KAI) sedang giat-giatnya memberdayakan aset-aset milik mereka yang selama ini terlantar. Salah satu aset milik PT KAI yang kini sudah direvitalisasi adalah Gedung Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah.

BUMN kereta api ini mencoba mengubah kesan angker yang selama ini sudah mengakar di gedung peninggalan Belanda tersebut. Kini proses revitalisasi Lawang Sewu sudah mulai tahap akhir, akan seperti apakah Lawang Sewu.

Selama ini beberapa acara komersil sudah banyak digelar di area Lawang Sewu, misalnya acara galeri seni, acara korporat bidang otomotif dan lain-lain. Secara perlahan, Lawang Sewu akan memberikan kontribusi pendapatan bagi PT KAI.

 

Opini Penulis Di Dunia Maya

Sebagai bangunan kuno dan bersejarah, gedung ini identik dengan kota Semarang, menjadi tetenger ataupun landmark kawasan sekitarnya. Dan memenuhi kriteria Catanese Snyder (1979) untuk dikonservasi. Pemenuhan criteria tersebut sebagai berikut :

  1. Nilai Estetika yang tinggi. Tolok ukur estetika ini dikaitkan dengan nilai estetis dan arsitektonis yang tinggi dalam hal bentuk, struktur, tata ruang, dan ornamennya
  2. Nilai Kejamakan. Lawang Sewu mewakili satu kelas atau jenis khusus bangunan yang cukup berperan, karena karya arsitektur tersebut mewakili suatu jenis khusus yang spesifik
  3. Nilai Kelangkaan. Lawang Sewu jelas sebuah bangunan yang sangat langka, karena hanya satu dari jenisnya, atau merupakan contoh terakhir yang masih ada, bahkan merupakan satu-satunya di dunia, atau tidak ada di lain daerah
  4. Nilai Peranan Sejarah,Lawang Sewu juga menjadi saksi sejarah perjalanan penjajahan kolonial sampai Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Dengan melihat criteria ini berarti juga sah apabila gedung ini layak dikonservasi, seperti telah dilakukan Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992 telah memasukkan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah yang wajib dilindungi.

Terhadap banyak fungsi yang akan disandangkan pada gedung Lawang Sewu, mulai rencana dialih fungsikan sebagai hotel, kantor dan pelayanan pembelian tiket PT.KAI, exibition room yang dilengkapi pertokoan, gallery foto, ruang converensi, sentra industri kreatif  sampai rencana penggunaan sebagai museum kerata api bahkan sebagai multy use building,. menunjukkan belum adanya suatu konsep pengalih fungsian yang jelas, baik dari PT.KAI sebagai pemilik dan pemerintah kota Semarang sebagai pemangku wilayah dimana bangunan Lawang Sewu berada.

Main frame yang jelas dari PT.KAI dan arah kebijakan dari pemerintah kota Semarang akan sangat dibutuhkan dalam pengalih fungsian gedung Lawang Sewu kedepan.

Pengalih fungsian gedung Lawang Sewu tentunya tidak lepas dari upaya konservasi.  Konservasi merupakan istilah yang menjadi payung dari semua kegiatan pelestarian sesuai dengan kesepakatan internasional yang telah dirumuskan dalam Piagam Burra tahun 1981. Konservasi : Adalah pelestarian suatu tempat agar makna kultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik. Konservasi dapat meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan dan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat dapat pula mencakup preservasi, restorasi, rekonstruksi, adapsi dan revitalitasi. Dengan mencermati pengertian diatas, maka cakupan konservasi gedung Lawang Sewu yang paling tepat terhadap kondisi saat ini adalah adaptasi/revitalisasi., yaitu kegiatan melestarikan bangunan masa lalu dengan memberikan fungsi yang lebih sesuai dengan kondisi masa sekarang. Keberanian mengembangkan dan menyesuaikan dengan kondisi fisik, sosial, ekonomi dan regulasi saat ini sungguh diperlukan.

Dalam sosialisasi tersebut, dijelaskan bahwa pemugaran gedung Lawang Sewu baru merupakan tahap awal dan diharapkan akan direncanakan tahap-tahap berikutnya. Pada tahap awal gedung ini akan dipugar dan dikembalikan pada bentuk aslinya. PT.KAI akan menfungsikan sebagai fasilitas kantor dan pendukung aktifitas perkereta apian, sebagian akan dijadikan fasilitas komersial yang akan mendukung operasional dan maintenance gedung ini.

 

Pembahasan

Keuntungan Yang Muncul Dari Pembaharuan Lawang Sewu

Kata pembaharuan yang merujuk kepada suatu perubahan yang dialami oleh sesuatu yang telah ada sebelumnya. Sesuai dengan hukum yang ada telah dipastikan jika pembaharuan sah-sah saja bila dilakukan. Dengan sejumlah peraturan pusat maupun daerah, pembaharuan menjadi sebuah keharusan bagi sebuah aset yang telah lama terbengkalai.

Dengan mengacu dari hal-hal tersebut pemilik dari Lawang Sewu yang tak lain adalah PT KAI bertanggung jawab penuh dalam pembaharuan tersebut. Rencana pembangunan kembali bangunan bersejarah Lawang Sewu telah disusun oleh pihak PT KAI, tetapi tak ketinggalan peran Pemerintah Kota Semarang sebagai kunci mulusnya pembaharuan itu sendiri. Namun, Entah kapan rencana-rencana tersebut akan terlaksana dengan sempurna. Dari tahap pertama yang telah dilakukan hanya mengacu pada perbaikan bangunan dengan mengembalikannya seperti dulunya. Yang selama ini telah rusak termakan waktu,  kembali diperbaiki oleh mereka. Masih banyak tahap-tahap yang harus ditempuh untuk mengalih fungsikan Lawang Sewu sebagai bangunan yang bernilai komersial untuk meningkatkan fungsi dari Lawang Sewu itu sendiri.

Banyak fungsi yang diisukan akan sebagai gedung Lawang Sewu yang baru. Mulai rencana dialih fungsikan sebagai hotel, kantor dan pelayanan pembelian tiket PT.KAI, exibition room yang dilengkapi pertokoan, gallery foto, ruang converensi, sentra industri kreatif  sampai rencana penggunaan sebagai museum kerata api bahkan sebagai multy use building. Hal ini sangat menunjukkan bila belum adanya suatu konsep pengalih fungsi yang jelas, baik dari PT.KAI sebagai pemilik dan pemerintah kota Semarang sebagai pemerintah daerah dimana bangunan Lawang Sewu berada. Ini menandakan belum terciptanya sebuah kerjasama yang baik dari keduanya.

Namun, berpaling dari itu semua, dari segala masalah dalam merencanakan pembaharuan tersebut, selama ini Lawang Sewu telah berfungsi tidak sebagai bangunan yang tak teurus namun telah terselenggara beberapa acara komersil seperti acara galeri seni, acara korporat bidang otomotif dan lain-lain. Hal Ini sebagai ibarat lampu hijau bagi PT KAI dan pemerintah Kota Semarang untuk semakin serius untuk mengalih fungsikan bangunan tua ini. Setidaknya telah terjadi perubahan walaupun hanya untuk mengembalikan seperti semulanya, untuk semakin memberitahukan bagi masyarakat untuk melestarikan bangunan bersejarah tersebut. Dan pastinya sebagai asset bangunan tersebut jika semakin banyak menarik para pengunjung untuk berkunjung ke Lawang Sewu dari Kota Semarang.

 

Respon Masyarakat Terhadap Pembaharuan Lawang Sewu

Membicarakan tentang respon dari masyarakat, tidak lepas dari pengelolaan Lawang Sewu itu sendiri. Kini Lawang Sewu telah menjadi salah satu tujuan untuk dikunjungi para wisatawan lokal ataupun interlokal. Hal ini menandakan adanya respon dari masyarakat terhadap hal tersebut. Bukan hanya dari pembaharuan secara fisik yang masih berbelit-belit, pengelola Lawang Sewu telah mengadakan juga sebuah pembaharuan agar Lawang Sewu dikenal oleh masyarakat senusantara. Dengan strategi yang jitu, para pengelola Lawang Sewu telah berhasil menjadikan Lawang Sewu sebagai salah satu persinggahan dalam perjalanan wisatawan. Dengan arsitektur yang khas dari Lawang Sewu, dan pembaharuan yang terjadi secara fisik, yaitu pembaharuan untuk menjadikannya seperti semula, para wisatawan disuguhi oleh pemandangan gedung masa lalu yang bersejarah yang wajib untuk dikaji dan dimengerti.

Sebagai suatu pusat wisata, pastilah tidak lepas dari kemajuan ekonomi. Dengan membujuk para wisatawan untuk lebih mengenal bangunan bersejarah, Lawang Sewu menjadi sebuah lahan bisnis bagi para pengelolanya.

Jika masyarakat ditanyai tentang Lawang Sewu, pastilah yang akan terlintas dibenaknya adalah keangkerannya. Memang dalam hal ini menjadi daya tarik tersendiri dari Lawang Sewu. Bagaimana tidak, beberapa acara di televisi swasta yang ada di Indonesia yang menayangkan sebuah sajian horor, telah pernah menggunakan Lawang Sewu sebagai lokasinya. Hal ini juga menjadi indikasi bahwa bangunan bersejarah tidak sepantasnya untuk dilupakan, walaupun hanya sebuah keangkeran yang tersisa, patut dimanfaatkan. Justru keangkeran itulah yang membuat masyarakan Indonesia khususnya mengetahui tentang Lawang Sewu. Dari beberapa penelusuran juga telah terbukti bahwa Lawang Sewu itu sendiri adalah tempat yang angker.

Bahkan dari yang kami dapatkan, Lawang Sewu pernah menjadi sebuah latar untuk suting salah satu film perjuangan di Indonesia. Dari bukti-bukti tersebut telah jelas jika respon masyarakat sekitar mengenai Lawang Sewu dibutuhkan untuk melestarikan bangunan tua tersebut.

 

Eksistensi Lawang Sewu Dalam Persaingan Di Era Modernisasi

Jika membicarakan soal eksistensi, tidak lepas dari trend, yaitu sesuatu yang selalu up to date. Agar seuatu tetap eksis dimata masyarakat harus memiliki sebuah kemajuan atau perkembangan. Perkembangan dapat ditinjau dari berbagai aspek, seperti management, keuangan, fisikal, dan lain sebagainya. Sebuah tanggung jawab diemban oleh pemilik dan pengelola bangunan Lawang Sewu agar tetap eksis di masyarakat.

Dalam kurun waktu tiga tahun sebelum ini, Lawang Sewu telah melakukan kemajuan yang signifikan. Perbaikan bangunan telah terlaksana dengan baik. Dari sisi lain, Lawang Sewu semakin dikenal di masyarakat, dibuktikan dengan peningkatan asset pariwisatanya, yaitu bertambahnya visitor yang mengunjungi Lawang Sewu.

Dalam persaingan pada era modernisasi kini, sangatlah jarang jika bangunan bersejarah seperti Lawang Sewu ini muncul sebagai sebuah tujuan liburan yang bersaing dengan bangunan-bangunan baru yang muncul seiringnya modernisasi. Dari hal tersebut dapat dilihat jika eksistensi Lawang Sewu meningkat dari yang dulu telah terbengkalai dan sekarang dikelola dengan baik, dan semakin banyak masyarakat yang ingin mengunjunginya.

Yang menjadi titik balik kemajuan yang dialami oleh bangunan Lawang Sewu ini sendiri tak lain adalah pembaharuan yang terjadi di Lawang Sewu itu sendiri. Patutlah sebuah acungan jempol bagi pengelola bangunan Lawang Sewu yang mengelolanya dengan baik sehingga dapat menjadi eksis dalam persaingan modernisasi seperti zaman ini.  Dan sudah selayaknya jika bangunan bersejarah Lawang Sewu ini tetap terlestarikan untuk menjadi kajian sejarah para penerus bangsa.

2 Comments

Add yours →

  1. kaka, yang ttg pergelaran seni (festival anak dll) yang diadakan di lawang sewu, itu sumbernya dari mana kak?
    aku butuh sumber buat tugas ku yang bagian itu,
    terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: