DAMPAK MODERNISASI TERHADAP BANGUNAN BERSEJARAH LAWANG SEWU


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

Pengertian Modernisasi

Modern berasal dari bahasa Latin yakni Modernus yang dibentuk dari kata Modo yang berarti cara dan Ernus menunjuk pada adanya periode waktu masa kini. Modernisasi berarti proses menuju masa kini atau proses menuju masyarakat modern. Jadi, modernisasi merupakan suatu proses perubahan social dimana masyarakat yang sedang memperbaharui dirinya berusaha mendapatkan cirri-ciri atau karakteristik yang dimiliki masyarakat modern.

Modernisasi sering kali disalah artikan sebagai Westernisasi. Westernisasi berasal dari kata West yang berarti barat. Dengan demikian, Westernisasi berarti pembaratan, yaitu peniruan perilaku seperti yang dilakukan Orang-orang di Negara barat. Orang yang kebarat-baratan belum tentu Modernisasi. Modernisasi dapat saja berarti meniru atau mengambil teknologi Barat tanpa harus bergaya hidup seperti orang barat. Modernisasi juga tidak sama dengan sekularisasi. Sekularisasi adalah suatu proses pemisahan antara nilai-nilai kepentingan duniawi dengan penekanan pada kepentingan duniawi. Jadi, Sekularisasi merupakan semacam ideologi yang menganggap bahwa hidup ini adalah semata-mata untuk kepentingan dunia.

Syarat-syarat Modernisasi

Menurut Soerjono Soekanto terdapat beberapa syarat-syarat modernisasi yaitu:

  1. Cara pikir yang ilmiah yang sudah melembaga dan tertanam kuat dalam kalangan pemerintah maupun masyarakat luas.
  2. Sistem administrasi Negara yang baik dan benar-benar mewujudkan birokrasi.
  3. Sistem pengumpulan data yang  baik, teratur dan terpusat pada suatu lembaga atau Badan tertentu seperti BPS(Biro Pusat Statistik).
  4. Penciptaan iklim yang menyenangkan terhadap modernisasi terutama media massa.
  5. Tingkat organisasi yang tinggi, terutama disiplin diri.
  6. Sentralisasi wewenang dalam perencanaan sosial yang tidak mementingkan kepentingan pribadi atau golongan.

Dampak Positif dan Negatif Modernisasi

Dampak Positif

  1. Perubahan Tata Nilai dan Sikap
  2. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi
  3. Tingkat Kehidupan yang lebih Baik

Dampak Negatif

  1. Pola Hidup Konsumtif
  2. Sikap Individualistik
  3. Gaya Hidup Kebarat-baratan
  4. Kesenjangan Sosial

Teori Modernisasi Pembangunan

Menurut Rostow, pembangunan merupakan sebuah proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yaitu dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat yang maju. Hal tersebut mempunyai kejadian yang sama di setiap negara, baik di masa lalu, masa sekarang, maupun masa yang akan datang. Walaupun terdapat variasi antara negara yang satu dengan negara lainnya, akan tetapi variasi tersebut bukanlah merupakan perubahan yang mendasar dari proses ini, melainkan hanya berlangsung di permukaan saja. Proses pembangunan tersebut di bagi kedalam lima tahap, yaitu:

  1. Masyarakat Tradisional: belum banyak menguasai ilmu pengetahuan.
  2. Pra kondisi untuk lepas landas: perubahan pola pikir masyarakat tradisional akibat dari intervensi masyarakat yang sudah maju, dan bersiap-siap menuju proses lepas landas.
  3. Lepas landas: ditandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi proses pertumbuhan ekonomi.
  4. Bergerak ke kedewasaan: perkembangan industri melaju pesat, sehingga kegiatan ekspor-import menjadi seimbang.
  5. Jaman konsumsi massal yang tinggi: tahap ini merupakan proses pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang bisa menopang kemajuan secara kontinyu.

Sejarah Lawang Sewu

Lawang Sewu adalah salah satu bangunan bersejarah yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda, pada 27 Februari 1904. Awalnya bangunan tersebut didirikan untuk digunakan sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta NIS. Sebelumnya kegiatan administrasi perkantoran NIS dilakukan di Stasiun Samarang NIS. Namun pertumbuhan jaringan perkeretaapian yang cukup pesat, dengan sendirinya membutuhkan penambahan jumlah personel teknis dan bagian administrasi yang tidak sedikit seiring dengan meningkatnya aktivitas perkantoran. Salah satu akibatnya kantor pengelola di Stasiun Samarang NIS menjadi tidak lagi memadai. NIS pun menyewa beberapa bangunan milik perseorangan sebagai jalan keluar sementara. Namun hal tersebut dirasa tidak efisien. Belum lagi dengan keberadaan lokasi Stasiun Samarang NIS yang terletak di kawasan rawa-rawa hingga urusan sanitasi dan kesehatan pun menjadi pertimbangan penting. Kemudian diputuskan untuk membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh ke lahan yang pada masa itu berada di pinggir kota berdekatan dengan kediaman Residen. Letaknya di ujung Bodjongweg Semarang (sekarang Jalan Pemuda), di sudut pertemuan Bodjongweg dan Samarang naar Kendalweg (jalan raya menuju Kendal). NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Negeri Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke kota Semarang. Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan gambar kerjanya dibuat dan ditandatangi di Amsterdam tahun 1903.

Arsitektur Lawang Sewu

Lawang Sewu dalam bahasa Indonesia berarti “Pintu Seribu”. Warga Semarang menyebutnya demikian karena gedung ini mempunyai pintu dan jendela berukuran besar menyerupai pintu yang berjumlah sangat banyak. Gedung ini dirancang oleh arsitek Belanda C.Citroen dari Firma J.F. Klinkhamer dan B.J. Quendag pada tahun 1903 dan selesai pada tahun 1907. Gedung ini awalnya digunakan untuk kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, perusahaan kereta api Belada.

Bagian depan bangunan bersejarah ini dihiasi oleh menara kembar model gothic dan terbagi menjadi dua are, memanjang kebelakang yang mengesankan kokoh, besar dan indah. Arsitektur Lawang Sewu bergaya art deco yang bercirikan ekslusif yang berkembang pada era 1850-1940 di benua Eropa.

Hukum Pendaurulangan Bangunan

Pendaurulangan bangunan sesuai dengan hakikat pelestarian sumber daya alam. Namun, kita tidak boleh melupakan adanya rambu- rambu yang harus dipatuhi dalam pelaksanaan rehabilitasi dalam rangka pelestarian bangunan bersejarah dengan model alih fungsi (adaptasi). Undang-Undang No 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya (UUCB), Peraturan Pemerintah No 10/1993 tentang Pelaksanaan Undang- Undang No 5/1992 itu, dan SKWK 646 (kalau masih berlaku), merupakan perangkat yang tak boleh dilewatkan begitu saja dalam perencanaan di sebuah bangunan bersejarah.

Peraturan Pemerintah No 10/1993 tentang Pelaksanaan Undang- Undang No 5/1992 mengatur lebih lanjut tentang hal itu, Pasal 23 menyiratkan tentang adanya peluang untuk melakukan sesuatu sembari melindungi benda cagar budaya. Ayat (2) menyebutkan, dalam rangka melindungi benda cagar budaya, perlu diatur batas-batas situs dan lingkungannya sesuai dengan kebutuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: